Minggu, 14 Agustus 2016

Memperhatikan Dorongan-dorongan Roh Kudus (Lukas 2:29-32)


Nas Alkitab : 

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” 

Suatu saat Simeon mendapat janji dari Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati, sebelum ia melihat Kristus, dan pastilah ia menerimanya dengan sungguh-sungguh. Karena itulah, hidupnya senantiasa dipenuhi oleh penantian, untuk mengalami penggenapan janji Allah, untuk melihat Tuhan.

Penantiannya, pada akhirnya, membuat dia memperhatikan dan mengikuti dorongan Roh, untuk pergi ke dalam bait suci, ketika Maria dan Yusuf membawa anak mereka ke sana (band. ayat 27). Di sana ia dapat mengenali dan mengakui bahwa bayi Yesus adalah Sang Pelepas dan dengan demikian mengalami penggenapan janji yang telah diberikan kepadanya.

Dalam kehidupan, kita hendaknya juga memiliki keinginan untuk senantiasa memperhatikan dorongan-dorongan Roh Kudus. Dorongan-dorongan Roh Kudus tidaklah kasar dan tidaklah mudah untuk dapat mengenalinya. Suaranya begitu lembut dan orang harus benar-benar berkonsentrasi pada apa yang dikatakannya.

Roh Kudus berseru di dalam sidang jemaat, yaitu di dalam rumah Tuhan, untuk menunjukkan kepada kita keselamatan dan kedatangan Kristus kembali, serta agar penantian akan penggenapan janjinya, tetap hidup dalam diri kita. 

Menghayati Tuhan pada masa sekarang ini 

Pada masa sekarang, Allah menyatakan diri, utamanya pada mezbah-Nya. Di

situ kita dapat menghayati akan kedekatan ilahi, dan pengharapan akan kedatangan Kristus kembali, dikuatkan. Pada mezbah-Nya, Allah bekerja melalui para utusan-Nya dan menawarkan keselamatan kepada manusia, yaitu persekutuan dengan diri-Nya. Barangsiapa membiarkan dirinya disentuh oleh Roh Kudus dan mendengarkan para utusan Allah, ia akan langsung dapat menghayati Tuhan, sejak masa sekarang ini.

Sebagaimana Simeon, persekutuan langsung dengan Allah akan dialami oleh orang-orang: 
  • yang saleh dan takut akan Allah. Dalam ha ini, orang harus menundukkan diri di hadapan Allah dalam rasa takut dan hormat, meraih firman-Nya dengan sungguh-sungguh.
  • yang dipenuhi dengan kerinduan dan penantian akan kedatangan Kristus kembali. Ini juga berarti, orang memiliki kerinduan yang mesra akan keselamatan ilahi.
  • yang terbuka terhadap dorongan-dorongan Roh Kudus. Melalui dorongan-dongan inilah, pada akhirnya, orang-orang akan dapat menyaksikan pekerjaan-Nya, yang menyentuh hati mereka, dan menggerakknya untuk memuji dan memuliakan nama Allah.

Bersaksi perihal penghayatan 

Dalam nas Alktab, Simeon pertama-tama menyatakan rasa syukurnya dan merasakan damai sejahtera, yang telah ia temukan, ketika mengenali dan dapat mengakui Tuhan, sebagai Sang Mesias. Bukankah kita juga dapat bersaksi perihal damai sejahtera ini, yang kita terima dari mezbah Tuhan?! Dengan damai sejahtera ini, kita juga ingin untuk menumbuhkan damai sejahtera, di mana-mana.

Kemudian Simeon memuji-muji Sang Juruselamat, “yaitu terang yang menyinari orang-orang kafir”, yang telah dikenali dan diakuinya. Di kemudian hari Sang Putera Allah juga bersaksi perihal diri-Nya sendiri dan berkata: “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12). 

Pada masa sekarang ini, sesuai dengan tugas pengutusannya, para duta-duta-Nya, yaitu para Rasul-Nya, juga bersaksi, bahwa Tuhan Yesus adalah terang. Barangsiapa menerima kesaksian para utusan Allah ini, mereka juga akan disinari oleh terang Tuhan. Terang ini hendaknya juga memenuhi diri kita, agar dengan demikian terang itu juga dapat memancar dari diri kita. Itulah yang akan terjadi, jika karunia-karunia Roh seperti kasih, pengharapan dan kepercayaan, menjadi nyata di dalam diri kita.

Hanya dengan demikian saja, kita dapat memberi kesaksian kepada sesama kita perihal Sang Juruselamat dan melayani sebagai petunjuk jalan kepada Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar