Kamis, 11 Agustus 2016

Di manakah Aku ?


Pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, “Di manakah Aku?”. Kalau pertanyaan ini diajukan oleh seseorang kepada kita, Di manakah kamu?”, maka kita pasti akan mengatakan, “Ya, aku di sini, aku ada di dekatmu!”. Tapi, benarkah kita ada di sini, ada di dekat mereka, ada di tempat tersebut?.

Mari kita mengambil pelajaran dari sebuah pelita. Sebuah pelita yang tidak dinyalakan, yang berarti tidak ada api, maka pelita itu tidak akan berarti apa-apa. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia hanya menjadi sebuah benda yang tidak berharga. Tetapi, ketika pelita itu dinyalakan dengan api, maka pelita itu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Pelita yang menyala tidak hanya menerangi dan menyingkirkan kegelapan yang ada di sekitarnya, tetapi pelita ini juga dapat berguna untuk memberikan kehangatan, menjadi petunjuk jalan, menjadi sarana untuk melihat segala kekotoran yang ada pada diri kita.

Demikian juga dengan kita sebagai pelita, keberadaan kita. Jika keberadaan kita, kita sebagai pelita, tidak ada api kasih yang menyala dan memancar dari diri kita, pada dasarnya, kita sebagai pelita, keberadaan kita, tidak akan ada artinya. Tidak menutup kemungkinan kita menjadi sesuatu yang tidak berharga di hadapan Allah, dan orang lain tidak merasakan adanya kehadiran kita di sekitar mereka.

Tuhan mengajar kita, “Kamu adalah terang dunia…(Matius 5:14)”.

Pertanyaan “Di manakah Aku”, seperti pada judul di atas, hendaknya mengingatkan kita. Apakah kita, sebagai  pelita yang menyala? Apakah kita benar-benar menjadi terang, sebagaimana yang diharapkan Tuhan? Apakah keberadaan kita, benar-benar dapat dirasakan orang yang ada di sekitar kita? Sekali lagi, "Di manakah Aku?"

Api kasih yang Tuhan berikan kepada kita, hendaknya senantiasa dapat menyala pada diri kita. Api kasih yang menyala dari diri kita hendaknya:

  • Dapat menjadi sumber terang bagi para jiwa yang ada di sekitar kita, “…supaya mereka dapat melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Matius 5:16)
  • Menjadi sumber terang bagi diri kita sendiri, sebagai sarana bagi kita untuk introspeksi, senantiasa melihat akan kekurangan, kekotoran dan sesuatu yang tidak baik pada diri kita, sehingga hal ini akan memacu kita untuk menyesuaikan hidup kita dengan citra dan teladan Tuhan. Hal ini sangat penting bagi kita, supaya kita juga dapat menjadi sebagaimana yang dikatakan Tuhan, “…supaya mereka dapat melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”
  • Memberikan kehangatan bagi mereka yang kasihnya mulai mendingin
  • Menjadi petunjuk jalan bagi para jiwa yang ingin datang ke takhta kemurahan Allah, bagi jiwa ingin mendapatkan keselamatan bagi jiwa mereka, bagi jiwa yang ingin dapat dipersekutukan lagi dengan Allah, Sang Bapa.

Demikianlah, biarlah api kasih dapat senantiasa menyala pada diri kita, sehingga orang lain dapat merasakan kehadiran dan keberadaan kita, dengan merasakan kehangatan dan terang yang memancar dari diri kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar