Jumat, 12 Agustus 2016

Kepercayaan Menghasilkan Perubahan (Lukas 4:48)


Nas Alkitab :

Maka kata-Nya kepada perempuan itu: ”Hai anakku, kepercayaanmu telah menolongmu. Pergilah dengan selamat! 

Kita baca di dalam Alkitab perihal perempuan yang sakit perdarahan, yang menjual segala sesuatu yang ia miliki untuk pergi berobat ke beberapa dokter, tetapi penyakitnya tidak dapat disembuhkan oleh siapapun. Namun setelah ia menyentuh jumbai jubah Tuhan Yesus, ia menjadi sembuh. Pada dirinya terjadi perubahan seketika itu juga setelah ia menyentuh jumbai jubah Tuhan. Bagaimanakah hal itu bisa terjadi? Sang Putera Allah memberikan jawaban di dalam nas kita: ”Kepercayaanmu telah menolongmu.” 

Berdasarkan penghayatan-penghayatanlah, kita bertindak, bereaksi dan mengambil keputusan dalam menghadapi berbagai situasi, dan setiap hari pasti ada situasi yang baru. Tidakkah sekali waktu kita berada dalam suatu pertentangan dengan kepercayaan kita? Bila memang demikian, perempuan itu menjadi teladan bagi kita. Ia percaya dan ia pun terus bertindak, dan oleh karena itu ia mengalami suatu perubahan yang menakjubkan bagi dirinya.

Kepercayaan yang berasal dari khotbah (firman Kristus) belum tentu bisa diperoleh setiap orang (bandingkan dengan 2 Tesalonika 3:2). Namun kita sadar, bahwa tanpa kepercayaan, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (bandingkan dengan Ibrani 11:6).

Apabila kita meraih firman dari mezbah, yang merupakan wujud dari kinerja Roh Kudus dan kita dapat menerapkannya di dalam kehidupan kita, maka kita akan mengenali apa yang berguna untuk kesehatan jiwa, apa yang menimbulkan sukacita dan kebahagiaan. Melalui hal inilah kekuasaan Allah menjadi nyata, bagi kita. Pekerjaan-Nya membuat kita senantiasa dapat mengandalkan diri dan percaya seperti kanak-kanak, kepada-Nya. Dengan demikian perubahan-perubahan dapat terjadi, pekerjaan-pekerjaan kepercayaan menjadi nampak. Pandangan kita semakin tertuju pada masa depan, ke tujuan kepercayaan kita. 

Musuh dari kepercayaan adalah keraguan dan itu sudah terjadi sejak dahulu melalui kata-kata si iblis: “Bukankah Allah berfriman…”. Di sinilah Adam dan Hawa, manusia-manusia yang pertama terjerumus ke dalam keraguan, dan keraguan menyebar ke dalam hati mereka (bandingkan dengan Kejadian 3:1). 

Pada masa sekarang, suara ini juga mendekati kita dalam berbagai bentuk. Bahaya besar mengintai, apabila seseorang kemudian kehilangan kepercayaan. Kepercayaan yang mampu menghasilkan perubahan. Meskipun  berbagai arus zaman, mendesak ke dalam pemikiran dan ke dalam kehidupan yang lain, namun marilah kita tetap memperhatikan firman dari Pemazmur: ”Tetaplah saleh dan bertekunlah dalam kejujuran; sebab pada akhirnya keadaan orang-orang semacam itu akan baik-baik saja.” (Mazmur 37:37 – Salinan Alkitab Jerman).

Apapun yang akan terjadi: kita ingin percaya seperti perempuan itu; kepercayannya menghasilkan perubahan. Dan kepercayaan kita juga mampu untuk menghasilkan perubahan: kepercayaan itu akan menghantarkan kita pada kelepasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar