Selasa, 09 Agustus 2016

Memandang Yesus, Yang DItinggikan, Memperoleh Keselamatan (Bilangan 21:8-9)


Nas Alkitab : 

Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.  

Dalam perjalanan ke Kanaan, orang-orang Israel yang kelelahan, mengeluh kepada Musa dan berkata, “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini, kami telah muak” (Bil. 21:5,6).Lalu Allah mengirimkan ular-ular tedung ke antara umat itu. Banyak orang Israel dipagut dan akhirnya mengalami kematian. Dari kejadian ini, umat Israel mengakui, bahwa mereka telah berdosa kepada Allah, dan kemudian mereka mohon untuk dibebaskan dari wabah ular itu. Musa, kemudian membawa permohonan ini ke hadapan Allah, dan Allah mengabulkannya. Ia menyuruh Musa membuat ular tedung dari tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang, dan menjanjikan bahwa siapa pun yang telah dipagut ular akan tetap selamat, jika ia memandang kepada ular itu.

Di bagian lain, pada suatu malam, ketika Yesus berbicara kepada Nikodemus, Ia mengatakan bahwa Anak Manusia akan ditinggikan, sama seperti Musa meninggikan ular tembaga, supaya setiap orang yang percaya kepada Yesus dapat “beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14,15). Anak Manusia yang dimaksud, bagi kita adalah tidak sulit untuk menebaknya. Ia adalah Yesus. 

Banyak orang Israel yang hidupnya dapat diselamatkan karena mereka memandang kepada ular tembaga yang dibuat Musa, meski ia telah dipagut oleh ular tedung. Kejadian ini merupakan gambaran pada Perjanjian Lama tentang kematian Yesus Kristus di kayu salib: Penyaliban Yesus. tidak hanya sebagai tanda, bagaimana Ia merendahankan diri-Nya, tetapi sekaligus  – menurut Yohanes – sebagai satu tanda bagaimana Ia ditinggikan, karena dengan demikian Yesus Kristus dinyatakan sebagai Pelepas umat manusia. Yesus sendiri menunjuk pada hal ini, setelah Ia masuk ke Yerusalem, yang menandai awal masa kesengsaraan-Nya: “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku. Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.” (Yoh. 12:32,33). 

Sama seperti orang-orang Israel yang terhindar dari kematian dan dikaruniai hidup dengan memandang kepada ular yang ditinggikan itu, demikianlah, siapa pun yang melihat kepada Yesus dalam iman sebagai Anak Manusia yang telah ditinggikan, maka ia akan memiliki hidup yang kekal. Tindakan keselamatan ini berakar dan berdasar pada kasih Allah: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Apakah arti memandang kepada Yesus Kristus? 

Allah tidak hanya menghilangkan ular-ular itu, tetapi juga membuat satu tawaran keselamatan kepada orang-orang Israel. Ini membutuhkan iman-kepercayaan mereka! Yesus Kristus, yang mengaruniakan dan menawarkan hidup yang kekal, juga menuntut iman-kepercayaan kita: Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan hidup (Yoh. 11:25).

Memandang kepada Yesus, kita akan tetap hidup meski diri kita sudah terpagut oleh iblis dan racun dosa telah menyebar ke seluruh tubuh kita. Memandang kepada Yesus berarti bahwa kita, memperhatikan dan memandang kepada :
  • Firman Allah. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih, karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:1 &14). Dari kedua ayat ini, jelaslah bahwa dengan memandang kepada Yesus yang ditinggikan, hidup kita akan terselamatkan dan memperoleh hidup kekal. 
  • Perbuatan-perbuatan-Nya. Ia mengajarkan kepada kita untuk mengasihi Allah dan sesama kita, dan menselaraskan hidup kita dengan kehendak Allah. Dengan menyesuaikan hidup kita sesuai dengan citra dan teladan Tuhan, yang tanpa dosa, maka sebagaimana Yesus dapat pulang kembali kepada Sang Bapa, demikian juga dengan kita, yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyesuaikan diri dan perbuatan kita seperti citra dan teladan Tuhan, maka Allah akan mengaruniakan kepada kita hidup kekal, berdasarkan kasih-Nya.
  • Sakramen-sakramen. Ia melembagakan sakramen-sakramen, Dengan meraih dan memandang sakramen-sakramen yang disediakan bagi kita, maka berbagai racun dosa, yang meski telah menyebar begitu luas di dalam diri kita akan lenyap. Sehingga hidup kita akan tetap terpelihara. Melalui sakramen-sakramen yang kita terima dari mezbah kemurahan-Nya, kita akan menerima keselamatan, jika kita meraih dan menikmatinya dengan penuh kepercayaan. 
  • Gereja. Ia telah melembagakan gereja, tempat dimana orang-orang percaya berkumpul untuk berkebaktian, mendengarkan firman Allah, menerima sakramen-sakramen dan  mengalami persekutuan dengan Allah dan juga satu dengan yang lain. Tanpa gereja tidaklah mungkin bagi manusia untuk memperoleh keselamatan.
  • Para Rasul. Ia mengutus para Rasul. Melalui pekerjaan para Rasul, Allah menyalurkan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal. Firman, Kemeteraian Suci (Karunia Roh Kudus) dan pengampunan dosa merupakan unsur-unsur penting yang dibagikan oleh para Rasul dan sangat diperlukan bagi keselamatan jiwa kita. (Matius 16:19 ; Yohanes 20:23) dan (Kisah Para Rasul 8:14-17)

Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang yang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.(ayat9). Dapat saja kemudian timbul petanyaan, mengapa dari tembaga, mengapa tidak dari emas, seperti saat membuat patung anak lembu. Dari hal ini kita juga dapat belajar, bisakah umat pada waktu itu, percaya dan mau memandang kepada sesuatu yang terbuat dari tembaga, sesuatu yang sederhana,  bukan dari emas yang lebih berharga.

Demikian juga dengan Yesus, sebagai manusia yang “sederhana”, apakah manusia mau percaya dan memandang akan ketinggian Yesus. Di sinilah dibutuhkan iman dan kepecayaan kepada Yesus untuk memperoleh hidup, meski dosa telah meracuni tubuh kita.

Kita adalah bagian dari tubuh Kristus dan harus hidup sesuai dengan iman kita. Marilah kita juga memberitahukan kepada orang lain untuk memandang kepada Yesus Kristus yang telah mengaruniakan kepada kita kehidupan kekal. Demikianlah kita mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan kita, di dalam kepastian akan karunia kehidupan kekal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar