Label

Tampilkan postingan dengan label Pemangku Jawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemangku Jawatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Agustus 2016

Melayani Tuhan Dalam Kerendahan Hati dan Belas Kasihan (Yeremia 9:23-26)

Nas Alkitab : 

Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." "Lihat, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku menghukum orang-orang yang telah bersunat kulit khatannya: 26 orang Mesir, orang Yehuda, orang Edom, bani Amon, orang Moab dan semua orang yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, orang-orang yang diam di padang gurun, sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya."“


Orang-orang dengan kemampuan khusus sering kali dipuji. Ada bahaya bahwa mereka mungkin berpikir mereka lebih baik dari orang lain. Ini juga berlaku pada mereka yang dilahirkan dalam  kelas sosial istimewa atau mereka yang telah mencapai kedudukan yang baik dalam hidup mereka.


Yeremia berbicara kepada umat pilihan Perjanjian Lama, satu bangsa yang menikmati status istimewa. Banyak dari mereka berpikir, bahwa mereka istimewa karena keadaan mereka, tanda perjanjian dengan Allah, dan berpikir mereka lebih baik daripada bangsa-bangsa lain. 

Sang nabi pun tidak menyangkal, bahwa ada beberapa orang yang bijaksana dan kuat di antara mereka dan bahkan tidak menilai hal ini sebagai hal yang buruk. Namun, ia menunjukkan bahwa setiap orang harus sadar akan kenyataan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan oleh karena itu, semua kemuliaan hanya layak diberikan kepada-Nya, Pemberi segala karunia yang baik.


Mereka yang kuat dan bijaksana, juga masih dapat ditemukan pada masa sekarang di antara umat Allah perjanjian baru. Marilah kita ingat pada Paulus: dalam hal keturunan dan intelektualnya, ia benar-benar menonjol dalam sidang jemaat. Namun, ia tidak menginginkan kemuliaan apa pun bagi dirinya, melainkan menunjuk pada Tuhannya: “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”(2 Korintus.12:9). Ia juga menegur anggota sidang jemaat di Korintus, untuk tidak menempatkan diri mereka di atas orang lain (1 Kor. 4:7).


Bukanlah satu jawatan yang tinggi, kedudukan yang tinggi, status sosial yang tinggi atau bakat-bakat besar yang menentukan untuk dapat melayani Allah. Yang penting adalah kerendahan hati yang sejati! Kerendahan hati ini mampu melepaskan kekuatan ilahi, sehingga memampukan kita, sebagai yang telah dibaptis dengan Roh, untuk melayani Tuhan kita.


Mereka yang rendah hati sadar bahwa pilihan atas diri mereka, kenyataan bahwa mereka telah menerima sakramen-sakramen, panggilan mereka untuk terbilangkan pada pengantin perempuan Kristus, dan kesempatan untuk melayani di sisi Kristus sebagai imamat rajani di dalam kerajaan damai, hanyalah karena kasih karunia. Ini mengarahkan pada pengakuan: Kita dipanggil untuk melayani di dalam kerendahan hati.

Melayani Tuhan Dalam Kerendahan Hati dan Belas Kasihan (Yeremia 9:23-26)

Nas Alkitab : 

Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." "Lihat, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku menghukum orang-orang yang telah bersunat kulit khatannya: 26 orang Mesir, orang Yehuda, orang Edom, bani Amon, orang Moab dan semua orang yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, orang-orang yang diam di padang gurun, sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya."“


Orang-orang dengan kemampuan khusus sering kali dipuji. Ada bahaya bahwa mereka mungkin berpikir mereka lebih baik dari orang lain. Ini juga berlaku pada mereka yang dilahirkan dalam  kelas sosial istimewa atau mereka yang telah mencapai kedudukan yang baik dalam hidup mereka.

Yeremia berbicara kepada umat pilihan Perjanjian Lama, satu bangsa yang menikmati status istimewa. Banyak dari mereka berpikir, bahwa mereka istimewa karena keadaan mereka, tanda perjanjian dengan Allah, dan berpikir mereka lebih baik daripada bangsa-bangsa lain. 

Sang nabi pun tidak menyangkal, bahwa ada beberapa orang yang bijaksana dan kuat di antara mereka dan bahkan tidak menilai hal ini sebagai hal yang buruk. Namun, ia menunjukkan bahwa setiap orang harus sadar akan kenyataan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan oleh karena itu, semua kemuliaan hanya layak diberikan kepada-Nya, Pemberi segala karunia yang baik.

Mereka yang kuat dan bijaksana, juga masih dapat ditemukan pada masa sekarang di antara umat Allah perjanjian baru. Marilah kita ingat pada Paulus: dalam hal keturunan dan intelektualnya, ia benar-benar menonjol dalam sidang jemaat. Namun, ia tidak menginginkan kemuliaan apa pun bagi dirinya, melainkan menunjuk pada Tuhannya: “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”(2 Korintus.12:9). Ia juga menegur anggota sidang jemaat di Korintus, untuk tidak menempatkan diri mereka di atas orang lain (1 Kor. 4:7).

Bukanlah satu jawatan yang tinggi, kedudukan yang tinggi, status sosial yang tinggi atau bakat-bakat besar yang menentukan untuk dapat melayani Allah. Yang penting adalah kerendahan hati yang sejati! Kerendahan hati ini mampu melepaskan kekuatan ilahi, sehingga memampukan kita, sebagai yang telah dibaptis dengan Roh, untuk melayani Tuhan kita.

Mereka yang rendah hati sadar bahwa pilihan atas diri mereka, kenyataan bahwa mereka telah menerima sakramen-sakramen, panggilan mereka untuk terbilangkan pada pengantin perempuan Kristus, dan kesempatan untuk melayani di sisi Kristus sebagai imamat rajani di dalam kerajaan damai, hanyalah karena kasih karunia. Ini mengarahkan pada pengakuan: Kita dipanggil untuk melayani di dalam kerendahan hati.

Kamis, 18 Agustus 2016

Kuatkanlah Hatimu, Karena Besar Upahmu (2 Tawarikh 15:7)



Nas Alkitab :

Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!

Ungkapan “kuatkanlah hatimu” menunjukkan semangat yang teguh, pengandalan diri dan hati yang bergembira. Marilah kita membangun pekerjaan Allah dengan sikap hati seperti itu, dan melanjutkannya sampai masa kerampungan, karena untuk tujuan itulah kita diutus.

Bagaiman kita dapat memiliki “hati yang kuat”? Karena tangan kanan Tuhan mempertahankan kemenangan bagi kita! Kita menemukan ungkapan “kuatkanlah hatimu” di banyak tempat di dalam Alkitab. Di dalam Matius 9:2 kita baca: “Percayalah (kuatkanlah hatimu) hai anakKu, dosamu sudah diampuni”. Kata-kata ini diucapkan oleh Tuhan Yesus kepada orang yang lumpuh. Kelumpuhan menghalangi gerakan tubuh. Dalam arti rohani ini adalah merupakan dampak dari dosa.

“Teguhkanlah hatimu, hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Matius 9:22), merupakan jawaban Tuhan Yesus kepada perempuan yang sakit pendarahan. “Sakit pendarahan” dalam kasus ini, menunjukkan suatu keadaan yang lemah. Tanpa kepercayaan, kita juga akan benar-benar dalam keadaan lemah! Dengan meraih kemurahan melalui iman kita pada firman Allah, maka kita, sebagai anak-anak Allah, akan dapat memiliki hati yang kuat.

“…jangan lemah semangatmu.” Teruslah bekerja dan berdoa! Doa akan sangat menolong dan benar-benar akan menggerakkan kekuatan surga. Untuk dapat merawat jiwa dengan belas kasihan dan penuh pengertian harus kita jadikan perhatian yang paling utama di dalam hati kita.

Kebaktian-kebaktian yang berbobot, yang penuh dengan kehidupan ilahi, kunjungan keluarga yang berbobot, yang penuh kegembiraan ilahi, firman yang menguatkan bagi segala golongan usia, dari anak-anak sampai orang tua, menguatkan semangat kita dan secara mutlak sangat dibutuhkan pada masa kita sekarang ini.

Kita juga ingin memiliki sidang jemaat yang bergembira. Ini dapat dimulai dengan nyanyian sidang jemaat dan paduan suara yang bergembira dan diakhiri dengan “Amin” yang kuat. Namun kita tidak boleh mengabaikan “kebun anggur pribadi” kita. Kita masing-masing memiliki sanak famili, kenalan dan kita juga kenal banyak orang di lingkungan kita. Untuk memberikan kesaksian pada saat yang tepat, ini juga berarti menggenapi himbauan; “jangan lemah semangatmu…” atau “jangan berpangku tangan”. Dan selanjutnya biarlah kasih dan kemurahan Allah akan menyediakan bagi kita suatu upah yang kekal. Di dalam Wahyu 22:12 kita baca: “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upahKu untuk membalas kepada setiap orang menurut perbuatannya” Bagaimana keadaan kita pada akhirnya – itulah yang penting! Biar bagaimanapun juga kita tidak mau memulai dengan Roh dan mengakhirinya di dalam daging (bandingkan dengan Galatia 3:3)

Upah dari Allah terdiri dari berbagai komponen. Komponen yang terutama dari upah ini adalah ikut ambil bagian di dalam kebangkitan yang pertama. Kemudian disusul dengan perjumpaan kembali dengan semua orang yang kita kasihi. Ini dilanjutkan dengan pekerjaan kita di dalam kerajaan damai seribu tahun. Akhirnya, kita akan mewarisi kebahagiaan kekal di dalam kemuliaan. Tidak ada orang yang mampu untuk melukiskan peristiwa-peristiwa ini, karena peristiwa ini berada di luar kemampuan kata-kata, pikiran ataupun imaginasi manusia.

Selasa, 09 Agustus 2016

Ia Gembalaku, Ia menuntun Aku (Mazmur 23:3)


Nas Alkitab :


Ia menyegarkan jiwaku, Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. 

Mazmur 23 menggambarkan secara menakjubkan pengandalan Daud kepada Allah. Di dalamnya juga terdapat banyak pengalaman berkenaan dengan tuntunan Allah, yang telah dikumpulkan umat perjanjian lama. Di padang gurun, Allah menuntun umat-Nya melalui  perantaraan Musa dan Ia berjalan di depan mereka. Pada siang hari, Allah menuntun dengan perantaraan tiang awan dan pada malam hari dengan tiang api, untuk menerangi mereka (bandingkan dengan Keluaran 13:21).

Perjanjian Lama menyebutkan beberapa orang yang berjalan di depan umat Israel di dalam kepercayaan dan menuntun umat itu berdasarkan kehendak Allah. Pada kesempatan ini marilah kita ingat pada tuntunan para nabi saja.

Penulis Mazmur, Daud, berkata: “Tuhan adalah gembalaku” (Mazmur 23:1). Gambaran tentang domba-domba dan gembala juga dikatakan  Tuhan Yesus Kristus: “Domba-dombaKu mendengar suaraKu, dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27).

Masih berkaitan dengan gambaran tentang domba dan gembala, yang merawat dan menuntun domba-domba tersebut, Tuhan menugaskan dan mengutus para Rasul, untuk menuntun kawanan dombaNya: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (bandingkan dengan Yohanes 17:18,20). Selain dari itu Ia memberikan tugas kepada Rasul Petrus: ‘Gembalakanlah domba-dombaKu!”  (Yohanes 21:16). 

Setelah Yesus meninggalkan dunia ini, bertepatan dengan perayaan hari Pentakosta, Bapa surgawi mencurahkan Roh Kudus ke atas orang-orang percaya melalui perantaraan para Rasul Tuhan, Selanjutnya, umat-Nya hendaknya membiarkan dirinya dituntun oleh Roh ini ke dalam seluruh kebenaran.

Untuk membantu pekerjaannya, para Rasul, selanjutnya menetapkan dan mengutus hamba-hamba Allah, yang juga mendapat tugas untuk mengajar dan merawat milik-Nya dan melayani-Nya, agar pengantin perempuan Kristus dapat di siapkan bagi hari-Nya Tuhan dan pada akhirnya dapat dihantarkan pulang ke rumah Sang Bapa, dalam persekutuan yang kekal di dalam kerajaan surga.

Berkenaan dengan kedua anak laki-lakinya, yang akan dikonfirmasi, seorang ibu menulis kepada seorang Rasul: “aku senantiasa berdoa, semoga Bapa surgawi senantiasa:

  • berada di depan mereka, untuk memimpin mereka
  • berada di atas mereka, untuk menuntun mereka
  • berada di samping mereka sebagai seorang teman
  • di bawah mereka, untuk mengangkat mereka, jika mereka jatuh
  • di belakang mereka, untuk memberi semangat kepada mereka
  • di dalam mereka untuk memberikan damai sejahtera kepada mereka.”
Tuhan akan menuntun kita dengan lemah lembut dan memimpin kita ke tempat, yang telah Ia siapkan bagi kita. Segala sesuatu yang Ia inginkan dari kita sebagai milik-Nya, adalah untuk mengikut Sang Gembala yang diutus menuntun kita.

Sabtu, 30 Juli 2016

Tugas dan Karunia, Berasal dari Allah (Yohanes 17:7)


Nas Alkitab : 

Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepadaKu itu berasal daripadaMu. 

Pada saat doa imamat agung, Tuhan Yesus memberikan suatu kesaksian yang menakjubkan kepada murid-murid-Nya: “Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang daripada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku… dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka” (Yohanes 17:8-10). Para murid Yesus menyadari bahwa Yesus Kristus, Sang Putera Allah, datang dari Sang Bapa, pengutus-Nya. Yesus pun menerangkan, bahwa semua karunia dari Sang Putera, datangnya juga dari Sang Bapa. Apakah yang diterima Sang Putera dari Bapa-Nya? Yaitu tugas untuk pergi ke dunia dan menyampaikan kehendak Allah.

Kristus adalah titik pusat rencana kelepasan ilahi. Yesus menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan menenangkan angin dan ombak, tetapi Ia tetap rendah hati di dalam kesadaran: bahwa semuanya telah diberikan kepada-Ku oleh Sang Bapa. Kemudian, Ia menanggungkan kepada diri-Nya dosa-dosa umat manusia dan menyerahkan hidup-Nya, yang tanpa dosa, sebagai kurban di atas kayu salib. Sebelum itu, Ia harus mengalami penderitaan yang tak terlukiskan di taman Getsemani dan juga di Golgota. Dari manakah Ia mendapatkan kekuatan untuk menanggung semua ini, dan dari manakah kasih yang tak ada habisnya bagi para pendosa? Semuanya telah diberikan kepada-Nya oleh Bapa-Nya. Di dalam pengetahuan, bahwa segala sesuatu yang mereka terima dari Pengutus mereka, datangnya dari Sang Bapa, para Rasul Yesus juga melaksanakan tugas mereka.

Apa yang pada masa sekarang ini diterima oleh umat manusia, yang telah dipilih Tuhan, di dalam sakramen dan pelayanan Roh Kudus, memang disampaikan oleh manusia, tetapi mereka bertindak atas tugas Rasul dan itu berarti juga tugas dari Kristus dan Bapa-Nya. Jadi firman dan sakramen adalah karunia ilahi. Juga penghiburan di rumah Allah yang boleh dialami jiwa-jiwa yang patah hati, diucapkan oleh kata-kata manusia, tetapi berasal dari takhta Allah.

Jika kita mengenali, bahwa apa yang diberikan kepada kita di dalam pengajaran Rasul, di dalam persekutuan, di dalam pemecahan roti dan di dalam berdoa itu adalah berdasarkan kasih Allah, maka kita juga akan tetap bertekun di dalamnya. Berbahagialah kita, karena diundang ke perjamuan kawin Anak Domba (bandingkan dengan Wahyu 19:9). Semua ini tidak dapat kita hasilkan dengan usaha kita sendiri; semua ini dikaruniakan kepada kita oleh Allah sebagai karunia kemurahan.

Rabu, 27 Juli 2016

Mengapa Mau Menjadi Hamba Allah


Terkadang, kita menyadari bahwa menjadi seorang hamba Allah, seorang gembala jiwa-jiwa, tidaklah senantiasa mudah, terkadang, penuh dengan tantangan dan sekaligus penuh dengan tekanan. Mungkin pertanyaan-pertanyaan berikut ini terdengar cukup akrab di telinga kita. Kita bertanya, mengapa saya melakukan ini semua? Untuk apa? Apakah yang saya dapat? Ini adalah satu pertanyaan yang sering kali muncul ketika kita lelah.

Ya, kita akui, ada sukacita dan ada juga kemenangan-kemenangan bersama Kristus. Tetapi tidak selalu nyata, dan si jahat, iblis, sering berusaha mematahkan semangat kita, memecah belah kita, dan bahkan memisahkan kita. Adakalanya kita melewati hari-hari baik yang penuh sukacita dan kebahagiaan. Manusia yang pertama, pernah mengalaminya. Dengan cara yang sempurna, Allah menciptakannya. Tetapi sayangnya, kemudian justru mereka mendengarkan suara si ular, sehingga mereka harus meninggalkan Firdaus dan kemudian mungkin mereka merasa sangat ketakutan dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hal seperti ini, sama sekali tidaklah baru! Paulus memiliki pergumulan-pergumulannya, tetapi Tuhan berjanji bahwa kasih karunia-Nya cukup dan Ia akan kuat di dalam kelemahan. Petrus menanyakan hal ini setelah berjumpa dengan seorang pemuda yang kaya dan Yesus mengasihi dia, dan pikiran “misi yang mustahil” muncul di antara murid-murid. Ini adalah satu perasaan yang dapat timbul pada setiap anak Allah. Jika pemuda kaya yang berkualifikasi tinggi ini saja tidak bisa, haruskah saya?

Tetapi Yesus memandang mereka dan menegaskan. Memang mustahil bagi manusia, tetapi Ia memastikan kepada mereka bahwa “bagi Allah semua hal mungkin”.

Lagipula, Yesus memberikan suatu jawaban untuk pertanyaan Petrus dan memastikan kepada mereka bahwa mereka yang mengikut Dia, juga akan duduk pada takhta atas suku-suku Israel. Dengan kata lain, Ia menjanjikan imamat rajani.

Kemudian apa yang tertinggal di belakang, akan diberi kompensasi seratus kali lipat. Yesus mengacu pada keluarga atau negeri-negeri. Ya, keluarga kita sering berbagi di dalam pengurbanan waktu, dan mungkin sering kali kita memiliki prioritas yang lebih sedikit pada lingkup kita sendiri, pekerjaan kita, urusan dan rumah tangga kita. Namun,100 kali lipat adalah suatu pelipatgandaan dan bukan hanya satu persentase, pecahan. Itulah kepenuhannya ketika Tuhan memikirkan tentang suatu upah.

Sebagai tambahan: “… dan memperoleh hidup yang kekal”. Warisan diterima karena garis keturunan, dilahirkan menjadi ahli waris dan tidak perlu bekerja untuk itu. Anak-anak Allah yang dilahirkan kembali menerimanya oleh kasih karunia.

TIDAK SEORANG PUN AKAN MENJADI MISKIN DAN KEKURANGAN APABILA IA MENGIKUTI PANGGILAN UNTUK MELAYANI TUHAN!